Kisah inspiratif
Sebut saja A, seorang anak perempuan yang dilahirkan dari keluarga sederhana, mempunyai saudara kandung satu yang berjenis kelamin laki-laki. Keluarga ini hidup dengan sederhana, namun berbagai masalah pun selalu menerjang, A sebagai anak pertama sejak kecil dia harus berjuang dan mendapatkan tekanan batin dari orang tuanya (ayah), ayahnya yang malas untuk bekerja, bahkan hampir setiap hari selalu cekcok dengan ibunya. Secara psikologi A termasuk anak yang kuat dan tegar. Dari kecil ia sering kali mendapatkan tekananan dari ayahnya. Sebelum adiknya lahir didunia si A menjadi anak satu-satunya untuk penguat ibu dalam mempertahankan rumah tangganya. Yang dilakukan ayahnya bukan hanya malas bekerja. Tapi juga sering membentak dan merusak perabotan rumah tangga waktu itu. Waktu si A masih dibangku sekolah dasar. Ayahnya Sering kali merusak produksi rumah tangga ibunya.Ibunya si A sejak setelah menikah dia bekerja untuk mencari penghasilan untuk mencukupi kekurangan dalam keluarganya. Dia mulai bekerja dengan jualan bakso, opak, membantu nyapu-nyapu dan lain-lain. Suatu ketika si A ini mempunyai adik, dengan bersusah payah ibunya selalu bertahan untuk tetap terlihat tegar di depan kedua anaknya.
Beberapa tahun kemudian si A lulus SD, menginjak masuk di sekolah baru membutuhkan biaya untuk beli seragam, buku, dan lainnya. Kebetulan juga adiknya masuk di sekolah TK. Ibunya mencoba mengingatkan kepada ayahnya bahwa adiknya dan si A membutuhkan biaya untuk pendidikannya, tapi responnya semakin tidak baik. Ibunya tetap terlihat tegar, itu membuat si A ini belajar dengan serius tanpa kenal lelah karena ingin mendapatkan biasiswa agar memperingan beban ibunya.
6 bulan kedepan pengumuman peringkat siswa berpreatasi, alhamdulillah dengan ridho Allah si A ini mendapatkan peringkat yang terbaik dan mendapatkan biasiswa untuk 6 bulan ke depan dan uang saku untuk keperluan sekolah. Menangislah sang ibu, beribu ribu rasa syukur diucapkan. Beribu-ribu kebahagiaan untuk menghibur lara akibat sikap ayahnya. 3 tahun duduk di bangku MTS alhamdulillah tida pernah membiayayai sekolahnya. Si A terus berprestasi.
Waktu wisuda pun datang, pengumuman siswa berprestasi jatuh pada si A. Dengan tetesan air mata ibunya dan si A maju keatas pentas dengan mendapatkan penghargaan dan uang saku serta dapat meneruskan ke jenjang MA dengan tanpa biaya 6 bulan ke depan.
Ibunya bersyukur, tapi lagi-lagi sang ayah terus menerus menekan dan menyiksa batin keduanya.
Tiba waktunya si A masuk di sekolah baru, dengan nuansa yang baru ahamdulillah si A tetap dengan prestasinya. Namun ditengah perjalanan sekolah si A mendapatkan masalah yang mana membuat ibunya sedih berkelanjutan. Si A mendapat gangguan ghaib dari salah satu temannya. Penyebabnya hanyalah keirian dan persaingan prestasi. Sampai pada saat itu si A jatuh dan tak mampu untuk berjalan. Dia seakan-akan lumpuh, kepalanya pusing dan sering kali jatuh tanpa sebab. Ibunya tidak berhenti untuk memperjuangkan anaknya untuk berobat kesana-kemari. Meskipun ayahnua yang tidak pernah ikut andil di dalamnya. Bahka ibunya dimarahin ketika si A diobatkan kesana-kemari. Sampai suatu ketika ibunya sembunyi-sembunyi untuk tetap membawa anaknya ke orang pintar.
Dalam kurun waktu 4 bulan terapi alhamdulillah si A mulai bisa beraktivitas kembali. Namun apa yang terjadi setelahnya. Gangguan terhadap si A tak kunjung henti. Sampai suatu ketika ibunya memutuskan untuk pindah sekolah. Dengan biaya yang cukup banyak menurut si A. Tapi lagi-lagi ibunya tidak pernah mengeluh untuk tetap semangat memberikan pendidikan kepada anak nya.
Pad sekolah yang baru itu, banyak biaya yang dikeluarkan. Dari sekolah yang baru pula ayahnya semakin tidak karuan dalam pendidikan anaknya. Selalu berkata berhentilah saja sekolah. Tapi sang ibu selalu berjuang agar anaknya menjadi anak yang sukses.
Setahun setengah lamaanya sekolah di sekolahan yang baru. Suka duka banyak dirasakan. Mulai dengan jualan opak disekolah si A juga tetap belajar dengan maksimal. Untuk mewujudkan impianya. Si A ini bermimpi untuk bisa kulia dan membuka les privat matematikaa dengan tanpa target biaya.
Alhamdulillah seiring waaktu berjalan, pengumuman masuk di PTN ini berlangsung. Si A masuk di pendidikan matematika tanpa jalur tes. Tetapi kendalanya kala itu adalah uang. Ketila uang pertama masuk, sang ibu berusaha mengingatkan kepada sang ayah untuk membantu mencarikan. Tapi apalah daya mendapat caciam dan hinaan yang membuat ibu dan si A ini meneteskan air mata. Sampai suatu ketika si A berkata kepada ayahnya bahwa ia akan membiayayai kulia dengan dirinya sendiri.
Alhamdulillah Allah mengabulkan permintaan si A, sekarang si A kulia dengan biasiswa atas prestasinya..
Pesan saya: janganlah sekali-kali menyerah dengan suatu keadaan saat ini, karena Allah telah mempersiapkan yang sangat indah dikemudian hari nanti.
Kisah bersambung, dan akan berlanjut kembali 😊
BalasHapus